(19 Jan 2026 | 07:55)

Habiskan Saja Gajimu !!

Judul Buku       : Habiskan Saja Gajimu !!

Penulis                  : Ahmad Gozali

Penerbit                : Transmedia 

Tahun Terbit : 2013

Kota tempat terbit : Jakarta

Jumlah Halaman : 174

Kategori : Non Fiksi

ISBN : 978-979-799-242-2

 

“Kalau saja penghasilan saya lebih besar, tentunya masalah keuangan ini akan cepat selesai.”

“Kalau gaji saya sudah naik, baru deh saya bisa nabung dengan rutin.”

Begitulah sejumlah alasan yang kerap terlontar untuk menyatakan persoalan “kekurangan uang”. Banyak keluarga yang mengeluh dan stres dalam mengatur keuangan mereka karena lebih sering “tekor” di akhir bulan ketimbang bersisa. Itulah kenyataannya!

Namun, betulkah itu masalah sebenarnya? Atau jangan-jangan anda lah yang salah dalam menetapkan tujuan dalam mengelola uang. Tujuan kita mengelola uang selama ini adalah untuk mengatur bagaimana caranya supaya uang bersisa di akhir bulan untuk ditabung atau diinvestasikan. Namun, kenyataannya bukannya bersisa, kita malah “kehabisan” uang sebelum semua keperluan sempat dibayarkan.

Nah, buku ini lahir dari banyaknya pertanyaan tentang bagaimana caranya menyisakan uang di akhir bulan. Bagaimana caranya agar bisa menabung dan berinvestasi dengan rutin. Daripada “kehabisan” uang setiap bulan, kenapa tidak sekalian saja kita “habiskan”…? Begitu konsep mengelola uang dalam buku ini. 

 

Buku karya Ahmad Gozali ini memang rekomendasi bagi kita yang mempunyai masalah keuangan. Kebanyakan orang mempunyai pola pikir bahwa ketika mendapat penghasilan, uang langsung dibelanjakan, jika ada sisa baru ditabung atau diinvestasikan. Pada akhirnya kita malah tidak bisa mengontrol dan uang dibelanjakan semua tanpa sisa. Menabung pun jadi gagal dan bahkan belum akhir bulan uang sudah habis.

Judulnya memang terdengar kontroversial, tetapi ide yang ditawarkan oleh penulis sangat masuk akal. Kita selama ini selalu berpikir bahwa setiap bulan kita harus menyisakan uang untuk ditabung atau diinvestasikan. Padahal, sudah naluri manusia untuk selalu menghabiskan sehingga selalu mengalami kesulitan untuk menyisakannya di akhir bulan. Ketika masalah tiba-tiba datang dan kita membutuhkan banyak uang untuk mengatasi, kita baru tersadar akan pentingnya tabungan atau investasi. Bahkan, ada juga keluarga yang mengalami kebangkrutan dan harus menjual seluruh aset yang tersisa demi menutupi kebutuhannya. Saat itulah baru datang penyesalan akan kekhilafan kita dalam menggunakan uang.

Oleh karena itu, buku ini menyarankan lebih baik uang tersebut dihabiskan saja. Tapi, tunggu dulu. Bukan hanya sembarang menghabiskan, melainkan kita harus menghabiskannya dengan cara produktif alias di jalan yang benar.

Sebagian besar orang akan merasakan bahwa lebih berat untuk menyisihkan penghasilan daripada menghabiskannya. Mengatur uang dengan cara menyisakannya akan sulit, karena hal itu sama sekali tidak menyenangkan untuk dilakukan. Buku Habiskan Saja Gajimu memberikan solusi mengatur uang dengan pola menabung dulu kemudian dibelanjakan, Sehingga pengeluaran yang dialokasikan akan senang untuk kita habiskan bukan untuk disisakan.

Lewat Buku ini kita akan mengetahui Jenis-Jenis pengeluaran yang sehari-hari kita lakukan, mulai dari yang wajib sampai yang fleksibel. Pengeluaran-pengeluaran ini perlu kita rencanakan dari awal berdasarkan prioritas terkait Risiko dan Kepentingannya.

1. Pengeluaran yang bersifat Sosial, Pada Bagian ini Kita dapat mengenal Pengeluaran Untuk Zakat penghasilan, Infak, Sedekah, Santunan, dll. Prioritas ini menjadi utama mengingat dalam Dalam Harta yang kita dapatkan, terdapat Hak fakir yang harus kita salurkan. Mungkin tidak terasa risikonya jika kita sampingkan, namun ini adalah “titipan” sehingga menyampaikan titipan bisa kita sebut sebagai titipan Allah Juga. Pengeluaran ini yang sifatnya sosial ini, ada yang wajib dan ada yang sukarela dan terkait dengan agama. Intinya adalah “setoran” kita kepada yang menganugerahi kita dengan rezeki.

2. Pengeluaran Yang bersifat cicilan utang, Pengeluaran sosial kita sebut sebagai “Hak Tuhan”, pengeluaran yang ini bisa kita sebut sebagai “Hak Orang Lain”. Karena yang namanya utang kan adalah hak orang lain yang tertunda dan harus kita bayarkan dalam jangka waktu tertentu. Cicilan ini bisa berupa Kredit Rumah, Kredit kendaraan, Utang makan ke waktu dibayarin teman, dll.

3. Pengeluaran Untuk Saving, Pengeluaran ini kita bisa sebut juga sebagai “Hak Kita sendiri di masa depan”. Untuk kepentingan sendiri, tetapi baru akan dinikmati di masa depan. Saving ini bisa lakukan dengan tabungan dana cadangan, Setoran investasi, premi asuransi, dll.

4. Pengeluaran untuk biaya hidup, Kalau yang ini bisa kita sebut sebagai “hak kita sendiri di masa sekarang”. Dalam pengeluaran ini, kita akan mengenal adanya pengeluaran Fixed dan flexible. Pengeluaran fixed adalah pengeluaran yang harus kita keluarkan untuk kelangsungan hidup kita, seperti biaya kontrakan atau kost-kostan, Pengeluaran flexibel merupakan pengeluaran yang masih bisa diatur sendiri sekehendak kita seperti biaya konsumsi.

Buku ini sepertinya memang dirancang untuk menjadi tuntunan bagi pembaca dalam mengatur keuangan. Oleh karena itu, penulis memberikan contoh praktis dalam mengatur keuangan di bab terakhir pada buku ini. Penyajiannya pun disertai gambar-gambar ilustrasi yang menarik. Di beberapa tempat memang sedikit terasa pengulangan pernyataan yang sama. Namun, bahasanya yang sangat lugas dan cenderung santai membuat siapa saja baik tua maupun muda dapat memahami buku.

 

Refleksi:

Buku ini menawarkan perspektif unik tentang pengelolaan keuangan yang bertentangan dengan saran umum untuk menabung di awal. Menghabiskan gaji secara terstruktur dan terencana, setelah memenuhi kewajiban prioritas, justru bisa lebih efektif dan membahagiakan daripada menyisakan uang dengan cara yang menyakitkan. Pendekatan "menyisakan gaji" seringkali tidak efektif. Sebaliknya, pendekatan "habiskan" berarti mengalokasikan seluruh gaji ke dalam pos-pos pengeluaran yang telah ditentukan sebelumnya, termasuk tabungan dan investasi, sehingga tidak ada sisa uang yang tidak terencana. Tindakan "menghabiskan gaji" menjadi sesuatu yang positif dan membahagiakan karena semua kewajiban dan tujuan masa depan telah dialokasikan dananya. Dan merupakan cara pandang baru dalam mengelola finansial, di mana disiplin dalam mengalokasikan dana sesuai prioritas adalah kunci, bukan sekadar jumlah uang yang tersisa di akhir bulan