(18 Nov 2025 | 10:21)

Menakjubkan, Potret Hidup Insan Beriman

Judul Buku : Menakjubkan, Potret Hidup Insan Beriman

Penulis : DR. Aidh Al Qarni

Penerbit : Aqwam

Tahun Terbit : 2005

Kota tempat terbit : Solo

Jumlah Halaman : 140

Kategori : Iman dan Islam

ISBN : 979-3653-08-6

 

Buku dengan judul "Menakjubkan: Potret Hidup Insan Beriman" ini adalah buku yang menguraikan rahasia kebahagiaan orang beriman dengan menjelaskan bagaimana mereka selalu bahagia baik saat mendapatkan karunia maupun menghadapi musibah. Di dalam buku ini banyak diberikan kiat-kiat untuk memperoleh kebahagiaan tersebut.

Buku ini judul aslinya “Al Hayatut At-Thoyyibah” sepertinya terisinspirasi dari sebuah ayat Al Qur’an yaitu Surat An-Nahl [16]: 97 “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik  dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” 

Juga terinspirasi sebuah hadits dari Shuhaib r.a., Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Dalam buku diberikan gambaran riilnya adalah sebagai berikut:

Orang mukmin adalah orang yang bahagia dengan kesehatan dan karunia lain yang diterimanya. Kemudian dengan karunia itu dia bersyukur dan menggunakannya untuk mencari keridhaan Allah dalam wujud ibadah wajib dan sunah dan berkorban baik  pikiran dan tenaganya.

Orang mukmin juga bahagia dengan sakitnya, karena ia mempercayai sakit itu akan menghapus kesalahan-kesalahan, membersihkan dosa-dosa, dan memperteguh jiwanya.

Orang mukmin bahagia dengan harta yang dimiliki, karena itu hartanya ia nafkahkan untuk mencari keridhaan Allah, memberi manfaat kepada hamba-hamba-Nya, dan untuk memenuhi hak-hak Dzat yang telah mengaruniakan rezeki itu kepadanya. 

Orang mukmin bahagia dengan kefakirannya, karena bisa memahami bahwa kefakiran itu adalah masa-masa untuk meraih sikap tawadhu dan ketenangan, dan masa-masa untuk menyelamatkan diri dari kecongkakan si kaya, ketakaburan orang berharta, dan menyelamatkan dirinya dari fitnah harta dan dunia serta kesusahan di alam fana.  

Kesimpulannya, setiap orang mukmin akan sangat mudah memperoleh kebahagiaannya, hanya dengan cara membuat cara pandang yang positif terhadap semua keadaan dirinya. Dan agar mudah membuat cara pandang yang positif ini, orang mukmin harus senantiasa berbaik sangka terhadap Alloh, Dzat Yang Mahakuasa menentukan takdir untuk dirinya. Selain itu yaitu terus meningkatkan keimanan, ketaqwaan dan memperbayak amal sholih.

Kita barangkali telah mengetahui penulis buku ini, DR Aidh al-Qorni ini adalah penulis buku-buku keislaman yang sangat produktif semisal “La Tahzan” yang mencapai best seller kira-kira satu dekade yang lalu, umumnya bukunya adalah berisi nasehat-nasehat singkat dan sangat bermanfaat untuk kaum muslimin.   

Sebagai contoh misalnya ada statement tentang hakikat kebahagiaan yang menurut saya penting diingat di halaman 26 yaitu: orang yang tidak pernah bahagia di rumahnya, tidak akan pernah bahagia di tempat mana pun. Ketahuilah, bahwa tempat yang paling tepat untuk ketenangan dan kedamaian jiwa, yang jauh dari citra kepalsuan, adalah rumah anda sendiri.

Rumah seorang muslim adalah kerajaan kecil, istana dan tempat ibadah baginya. Ia dapat melakukan peran yang diemban dengan sebaik-baiknya. Menjaga lisan, pendengaran, penglihatannya, menutup aib dirinya, menjaga agama dan martabat di dalamnya. 

Seorang mukmin untuk bisa bahagia tidak harus mempunyai rumah besar dan tercukupi segala halnya. Meraih peran-peran sosial yang tinggi dan sebagainya, tetapi cukup dengan merasa puas  menerima apa yang ada padanya, memahami dan menerima peran yang ditakdirkan Allah kepadanya. Lalu mengelola keluarga dan hartanya sesuai aturan Allah dan menjalankan peran-peran sesuai dengan kemampuannya dan berharap ridha dan pahala. Kalau sampai pada tingkatan tersebut maka sungguh ia telah mencapai kehidupan yang baik di dunia dan pasti balasan yang lebih baik ketika di akhirat.

Di dalam buku yang tebalnya 140 halaman ini selain menjelaskan hakikat kebahagiaan – terkait dengan kehidupan yang baik – juga dibahas hakekat dosa dan ampunan bagi seorang mukmin, sikap bersyukur dan bersabar, contoh-contoh amal kebajikan serta penjelasan tentang nikmat-nikmat dalam kehidupan kita yang tak terhitung dan tak terbayangkan. Misalnya nikmat akal, iman, kesempurnaan indera, nikmat tidur.  

 

Refleksi:

Orang beriman itu menakjubkan. Jika mendapat nikmat, ia bersyukur. Jika mendapat musibah, ia bersabar. Hidup baginya adalah ujian. Senang atau susah tak masalah. Kaya atau miskin tak jadi soal. Karena pada kedua kutub itu terhampar kesempatan untuk berburu ridha Allah. Dan bagi orang beriman, tak ada yang penting selain ridha Allah. Karenanya, orang paling bahagia adalah orang beriman. Dia bisa "survive" dalam segala kondisi.