(30 Jan 2026 | 11:10)

Cara Mengatasi Gejolak Emosi Anak

Judul Buku : Cara Mengatasi Gejolak Emosi Anak

Penulis : Dr. Malak Jurjis

Penerbit : PT. Mizan Publika

Tahun Terbit : 2004

Kota tempat terbit : Surabaya

Jumlah Halaman : 179 halaman

Kategori : Non Fiksi

 

Buku ini membahas pentingnya peran orang tua dan pendidik dalam memahami serta mengelola gejolak emosi anak. Dengan pendekatan yang menggabungkan prinsip-prinsip psikologi anak dan nilai-nilai Islam, Dr. Malak Jurjis memberikan panduan praktis untuk membantu anak mengembangkan kepercayaan diri dan keseimbangan emosional.

Mengenal dan menanggulangi Gejolak emosional anak

Anak adalah pribadi yang kompleks. Ada yang pendiam, menjauh dari pergaulan, ada yang ramah dan suka bergaul, ada pula yang temperamental. Mereka memendam gejolak emosi yang tercermin pada gerakan refleks yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Gerakan itu dilakukan untuk meredam ketegangan jiwa akibat susunan saraf yang ikut menegang. Contoh gerakan yang menunjukkan gejolak emosi antara lain; menghisap jari, menggigit kuku, mengkedip kedipkan mata, menggerakkan hidung dll yang dilakukan secara tidak sengaja.

Kebiasaan buruk tersebut tidak akan hilang kecuali dengan terapi psikologi dan perubahan prilaku keluarga. Kebutuhan psikologisnya harus terpenuhi; degan rasa aman, terlindungi, dihargai dan dicintai.

Faktor Penyebab Gejolak Emosi Anak

Dr. Jurjis mengidentifikasi beberapa faktor yang dapat memicu gejolak emosi pada anak, antara lain:

  • Kurangnya perhatian dan kasih sayang: . Anak bisa mengukur tingkat kehangatan kasih sayang dan cinta ayah dan ibunya. Anak yang merasa diabaikan cenderung menunjukkan perilaku emosional sebagai bentuk mencari perhatian 
  • Lingkungan yang tidak stabil maupun tidak nyaman: Perubahan mendadak dalam lingkungan keluarga atau sekolah dapat menyebabkan ketidakpastian dan kecemasan pada anak.
  • Kurangnya pemahaman terhadap emosi: Anak yang tidak diajarkan cara mengenali dan mengungkapkan emosinya dengan tepat mungkin akan mengekspresikannya melalui perilaku negatif.
  • Pola asuh yang terlalu keras atau terlalu memanjakan
    • Terbentuknya karakter anak, baik perasaan, emosional, tingkah laku maupun kebiasaan, timbul dan berpusat pada kedua orang tua; Orang tua maupun guru yang temperamental secara tidak langsung mendidik anak untuk emosional. 
    • Hubungan yang buruk antara ibu dan anak, membuat Anak hidup dalam tekanan sehingga anak tidak akan sukses maupun meraih prestasi, merasa minder, putus asa dan menderita 
    • Sikap menganaktirikan menyebabkan anak cenderung mengurung diri, pemalu, minder, tak kuasa menjaga haknya, sensitif, mudah emosi. Anak akhirnya tidak bisa menerima kenyataan dan tidak percaya diri. Bahkan akan tertinggal pelajaran.
  • Pengalaman traumatis atau tekanan sosial

Tanda-Tanda Gejolak Emosi pada Anak

Beberapa indikator bahwa anak mengalami gejolak emosi meliputi:

  • Perubahan perilaku drastis: Seperti menjadi mudah emosi, marah karena hal sepele,memusuhi teman,lebih agresif atau menarik diri.
  • Kesulitan dalam konsentrasi: pikiran kacau, perhatian terpecah,Anak mungkin menunjukkan penurunan prestasi akademik atau kesulitan fokus.
  • Reaksi fisik: Seperti sering sakit kepala, pusing, mengalami kejang,atau sakit perut tanpa sebab medis yang jelas.

Pentingnya Peran Orang Tua dan Guru
Orang dewasa memiliki peran sebagai teladan dalam mengelola emosi,Pendengar yang baik, Pembimbing, bukan penghakim. Anak belajar mengelola emosinya dengan meniru cara orang tua dan guru menghadapi masalah.

 

Strategi Mengelola Emosi Anak

Berikut ini adalah berbagai strategi untuk membantu anak mengelola emosinya:

  • Membangun komunikasi yang efektif: Mendorong anak untuk berbicara tentang perasaannya dan mendengarkan tanpa menghakimi.
    1. Tetap tenang saat anak marah atau menangis
    2. Dengarkan anak tanpa memotong pembicaraan
    3. Akui perasaannya: “Kamu sedang marah, ya?”
    4. Jangan langsung menyalahkan atau menghukum
    5. Ajarkan anak menamai emosinya (marah, sedih, kecewa, takut)
    6. Bantu anak mencari solusi bersama
    7. Berikan pelukan dan sentuhan positif
  • Menetapkan rutinitas yang konsisten: Rutinitas memberikan rasa aman dan prediktabilitas bagi anak.

Peran Nilai-Nilai Islam dalam Pendidikan Emosi

Dr. Jurjis menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai Islam dalam pendidikan emosi anak, seperti:

  • Kesabaran (Sabr): Mengajarkan anak untuk menghadapi tantangan dengan tenang dan tidak mudah marah, Mengenali emosi diri sendiri,Mengontrol reaksi emosinya, Menghargai perasaan orang lain,Menyelesaikan konflik secara damai
  • Syukur: Membantu anak menghargai apa yang dimiliki dan mengurangi rasa iri atau tidak puas.
  • Kasih sayang dan Empati: Mendorong anak untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain, yang dapat mengurangi perilaku agresif.

Refleksi

  • Buku ini memberi panduan yang bermanfaat bagi orang tua dan pendidik dalam membantu anak mengembangkan kecerdasan emosional yang sehat. Dengan menggabungkan pendekatan psikologis dan nilai-nilai Islam, buku ini memberikan strategi praktis untuk membimbing anak menuju keseimbangan emosional dan kepercayaan diri yang kuat. emosi anak bukan masalah, melainkan kesempatan untuk mendidik. Dengan pendekatan penuh kasih sayang, kesabaran, dan komunikasi yang baik, orang tua dan guru dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang matang secara emosional.