Judul Buku : Imunisasi Mental Untuk
Bangkitkan Optimisme
Penulis : Dr. Aziz Anwar Mansyur
Pe nerbit : PT Elex Media Komputindo
Tahun Terbit : 2010
Kota Tempat Terbit : Jakarta
Jumlah Halaman : 236
Kategori : Non-Fiksi Self Help
ISBN-10 : 979-27-6908-4
ISBN-13 : 978-979-27-6908-1
Imunisasi mental digunakan agar lebih sehat, lebih Bahagia, serta lebih optimistik.
Buku ini dirancang sebagai panduan praktis atau "dokter diri" untuk membantu pembaca mengatasi rasa putus asa,
kegagalan, dan tekanan mental dengan cara membangun pola pikir yang positif.
Orang pesimis lebih berisiko terkena penyakit. Oleh karena itu, bangkitkan mental optimis yang kuat diterpa badai
kehidupan!
Sering kali kita Ketika diberi suatu tugas atau Ketika ada badai dalam kehidupan kita seringnya berpikir mustahil untuk melewatinya
padahal kalo bukan kalian yang hadapi siapa lagi?, tidak semua orang hidupnya ringan dan tidak semua orang ujian hidupnya sama
itulah mengapa pentingnya cara pandang optimis untuk menghadapi suatu masalah.
1. Berawal Dari Cara Pandang Yang Berbeda
Ada ungkapan gelas setengah penuh dan setengah kosong digunakan untuk menyatakan cara pandang yang berbeda antara
optimistik dan pesimistik. Mungkin kita sudah terlalu sering mendengar ungkapan ini. Bagi orang optimistik, gelas yang berisik
sampai setengahnya dipandang sebagai penuh. Sedangkan orang pesimistik memandang gelas yang sama sebagai setengah
kosong. Dari sini kita tahu bahwa si pesimis selalu memikirkan kekurangan nya bahkan dengan gelas yang sama dengan si optimis.
Menurut laporan Epidemiology, pesimis yang stress berkemungkinan 4 kali lebih tinggi terserang FLU/PILEK dibanding si optimis.
Bahkan berbagai penelitian juga telah menunjukkan bahwa stress dapat menganggu system imun ( kekebalan tubuh), dan
mengakibatkan kita lebih rentan terhadap virus. Tapi dari hasil penelitian juga ditunjukkan bahwa yang jadi masalah bukan
hanya stresnya, tapi juga bagaiman cara kita berpikir dan mengatasinya.
2. Sadarilah Bahwa Cara Kita Memandang Dunia Akan Memengaruhi Kesehatan Tubuh Kita
Walau sudah disinggu, diragukan atau melewati segala ujian hidup yang ada sebelumnya, mungkin Anda masih belum
percaya betapa hebatnya bagaimana cara kita memandang dunia, apakah optimis atau pesimis secara bermakna dapat
memengaruhi Kesehatan diri kita. Sebagai tambahan, menurut hasil penelitian yang dilakukan di university of Michigan,
Ann arbor, orang pesimistik lebih sering sakit dalam sebulan dibanding lawan mereka optimistik.
Berdasarkan fakta lain dalam penelitian terhadap para pelajar, ternyata si pesimistik juga lebih sering terserang FLU
dibanding siswa optimistik. Siswa optimistik menunjukkan, lgA suatu antibody yang memerangi penyakit yang terdapat
di dalam air ludah dan cairan tubuh lainnya ikut terlibat. Kada lgA rendah dikaitkan dengan menjadi sakit, penyebabnya
mungkin si pesimisme dan rasa putus asa yang menyebabkan kada lgA menurun.
3. Perbedaan Hasil Kesehatan Si Optimis Dan Si Pesimis
Para optimis diyakini akan lebih bisa melewati setiap fase kehidupannya dengan mulus dan inilah yang membedakan
antara mereka dari kaum pesimis. Saat masalah dan hambatan mendatangi si optimis, maka tekanan dan stres yang
mereka terima cenderung lebih rendah. Sebagaimana yang dianjurkan Suzanne Segerstrom, ph.D., peneliti seputar
fenomena optimisme pada University of Kentucky dan penulis Breaking Murphy’s Law. Sedangkan dalam kurun waktu
lebih ke depan, para optimis juga terbukti berusia lebih Panjang.
Sedangkan pasa pesimis akan mudah terkena penyakit jantung dan Parkinson. Sebuah penelitian seputar Kesehatan
jantung, yang berlangsung selama 9 tahun dan diikuti lebih dari 900 Pria dan Wanita dibelanda, menemukan bahwa
para pesimis akan meninggal lebih cepat saat terkena serangan jantung. Hal ini berbanding terbalik dengan para optimis
yang punya daya juang untuk hidup lebih tinggi.
Bukti ini tak hanya terlihat pada seseorang terkena serangan jantung, tapi juga di kala penyakit lainnya melanda. Hal
yang juga mengkhawatirkan, sikap pesimis ini sangat berhubungan dengan tingginya resiko terhadap penyakit demensia
(pikun).
Selain itu, ada pula yang perlu disikapi pada kepribadian seseorang, ternyata pesimis dan kegelisahan juga berhubungan
dengan perkembangan penyakit Parkinson di kemudian hari. Riset yang baru pertama kali dilakukan ini menunjukkan
bahwa orang yang mempunyai rasa pesimisme dan kegelisahan yang tinggi berisiko mengakibatkan munculnya penyakit
Parkinson pada suia 30 atau 40 tahun mendatang menurut James Bower, MD, seorang ahli neurologi daru Mayo Clinic
di Rochester, Minnesota AS, dan juga periset yang terlibat dalam penelitian ini.
4. Berusahalah Menjadi Orang Yang Lebih Optimis
Padahal sebenarnya kita bisa saja dengan mudah terhindar dari wabah yang membuat pesimis ini, apalagi jika mau
berusaha menjaga Kesehatan mental supaya tetap positif dengan Menyuntikkan stimulan mental optimis setiap hari.
Atau paling tidak kekang kekerasan negative agar lebih sehat. Percayalah pada hasil penelitian yang menunjukkan si
optimis lebih jarang sakit dibanding si pesimis. Bahkan mereka yang optimis juga lebih cepat pulih setelah mengalami operasi