Mulianya Profesi Guru (Menyalakan Cahaya Peradaban)

23 Oct 2026 • 07:39 WIB
Mulianya Profesi Guru (Menyalakan Cahaya Peradaban)

Oleh: Dr. Mochamad Taufik, M.Pd.

Ada profesi yang hasil kerjanya tidak selalu terlihat hari ini, tetapi menentukan masa depan sebuah bangsa. Itulah guru. Dari ruang kelas, ia menanamkan ilmu, membentuk karakter, dan menumbuhkan harapan. Ia mungkin tidak selalu tercatat dalam sejarah, tetapi sejarah besar hampir selalu berutang kepada para guru.
Ironisnya, guru sering disebut pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi kemuliaan profesinya belum selalu sebanding dengan tanggung jawab yang diemban. Kita memuji guru dalam upacara, tetapi pertanyaan mendasarnya tetap relevan: sudahkah profesi guru menjadi pilihan utama bagi putra-putri terbaik bangsa?
Belajar dari negara lain
Jepang, Singapura, dan sejumlah negara Eropa memberikan pelajaran penting tentang pembangunan kualitas guru. Singapura, misalnya, mengembangkan sistem seleksi, pendidikan, dan pengembangan karier guru secara terstruktur. Finlandia menempatkan pendidikan calon guru dan kepercayaan profesional sebagai bagian penting dari sistem pendidikannya.
Memang, kondisi dan daya tarik profesi guru di setiap negara tidak sama. Namun, ada prinsip yang dapat dipetik: guru berkualitas tidak lahir hanya dari panggilan jiwa, tetapi juga dari sistem yang menghargai kompetensi dan martabat profesinya.
OECD dalam Education at a Glance 2024 menyoroti pentingnya remunerasi dan kondisi kerja dalam memahami daya tarik profesi guru. Artinya, kecintaan terhadap pendidikan harus diperkuat oleh kebijakan yang memungkinkan guru bekerja secara profesional, sejahtera, dan bermartabat.
Bangsa tidak cukup membangun gedung sekolah dan mengganti kurikulum. Bangsa harus memastikan bahwa di dalam setiap kelas hadir guru yang kompeten, berintegritas, dan memiliki kesempatan untuk terus berkembang.
Ilmu yang menerangi
Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya kesatuan ilmu dan amal. Sebuah ungkapan yang kerap dinisbatkan kepada beliau menggambarkan orang berilmu yang mengamalkan ilmunya seperti matahari: menerangi dirinya sekaligus menerangi orang lain. Redaksi persis ungkapan tersebut perlu diverifikasi pada sumber primer, tetapi pesan moralnya tetap kuat.
Guru sejati bukan sekadar orang yang mengetahui banyak hal, melainkan orang yang menghidupkan pengetahuannya dalam tindakan. Ia mengajarkan kejujuran dengan bersikap jujur, menanamkan disiplin dengan memberi teladan, dan membangun keberanian dengan menghargai usaha murid.
Murid mungkin melupakan sebagian materi pelajaran, tetapi tidak selalu melupakan guru yang pernah membuatnya percaya pada kemampuan dirinya. Di sinilah kemuliaan guru menemukan maknanya: bukan hanya memindahkan pengetahuan, melainkan membantu manusia menemukan potensi dan arah kehidupannya.
Al-Qur'an, surah Al-Mujadilah ayat 11, menegaskan bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Ilmu, dengan demikian, bukan sekadar alat memperoleh pekerjaan atau kedudukan, melainkan amanah untuk menghadirkan kemaslahatan.
Memuliakan guru, membangun peradaban
Tantangan pendidikan kini semakin kompleks. Kecerdasan buatan, arus informasi digital, dan perubahan dunia kerja menuntut guru terus belajar. Namun, tuntutan itu harus diimbangi dukungan nyata: penghasilan yang layak, pelatihan yang relevan, pengurangan administrasi yang tidak perlu, kepemimpinan sekolah yang mendukung pembelajaran, serta perlindungan profesional yang adil.
UNESCO melalui Global Education Monitoring Report 2024/5 menegaskan pentingnya kepemimpinan pendidikan yang berorientasi pada pembelajaran. Mutu pendidikan bukan semata-mata tanggung jawab guru, melainkan hasil kerja bersama pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Teknologi dapat membantu guru menyampaikan materi, tetapi tidak otomatis menggantikan kebijaksanaan, empati, dan keteladanan. Karena itu, kemajuan pendidikan tidak cukup diukur dari kecanggihan perangkat atau perubahan kurikulum. Ukuran yang lebih mendasar ialah apakah anak-anak tumbuh menjadi manusia berilmu, berakhlak, mandiri, dan bertanggung jawab.
Memuliakan guru bukan berarti membebaskannya dari evaluasi. Justru profesi yang mulia menuntut kompetensi, integritas, dan tanggung jawab yang tinggi. Penghormatan harus berjalan bersama peningkatan mutu.
Pada akhirnya, guru adalah investasi peradaban yang hasilnya mungkin baru terlihat puluhan tahun kemudian. Ketika seorang guru mengubah kebodohan menjadi pengetahuan, keputusasaan menjadi harapan, dan ketidakpedulian menjadi tanggung jawab, sesungguhnya ia sedang membangun masa depan bangsa.
Guru ibarat matahari: cahayanya tidak berkurang karena menerangi orang lain. Maka, jika kita sungguh-sungguh menginginkan bangsa yang besar, jangan hanya memuji guru. Bangunlah sistem yang membuat profesi guru layak dipilih, layak dijalani, dan layak dibanggakan.
Sebab, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin hari ini, tetapi juga oleh guru yang sedang mendidik generasi esok.