MENDIDIK ANAK TANPA KASAR: PANDUAN TARBIYAH UNTUK ORANG TUA DAN GURU

14 Oct 2026 • 13:44 WIB
MENDIDIK ANAK TANPA KASAR: PANDUAN TARBIYAH UNTUK ORANG TUA DAN GURU

Oleh : Maria Qiftiyah

Judul Buku : Mendidik anak tanpa kasar

Penulis : Muhammad Syafii Saragih, M.A

Penerbit : Pt Assalam

Tahun Terbit : 2021

Kota tempat terbit : Simalungun-Sumatera Utara

Jumlah Halaman : 184 halaman

Kategori : Non Fiksi

 

Buku Mendidik Anak Tanpa Kasar karya Muhammad Syafii Saragih, M.A. membahas tentang pentingnya mendidik anak dengan kasih sayang, kesabaran, keteladanan, dan komunikasi yang baik. 

Banyaknya kasus kekerasan pada anak, secara fisik maupun psikis serta kekerasan seksual masih sangat tinggi, berdasarkan data dari SIMFONI Kementerian PPPA tahun 2019, tercatat 14.085 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. 60% kekerasan dialami di lingkungan keluarga. Faktor yang melatarbelakangi tingginya tingkat kekerasan ini antara lain:

  • Kurangnya pemahaman orang tua terhadap karakter dan perilaku anak secara psikologis
  • Tabiat dan karakter orang tua yang temperamen
  • Jauhnya pemahaman dan pengamalan ajaran agama dalam keluarga

Hendaknya kita berhati hati dengan ucapan; Ucapan menggambarkan pola hati dan pikiran, karena ucapan adalah doa, bahkan dapat menjadi kenyataan. Islam melarang umatnya berkata kasar. Allah membenci orang yang berkata kotor dan kasar. Rasulullah mengaitkan antara akhlak mulia dengan lisan yang kasar lagi kotor. Barometer akhlak seseorang dapat dilihat dari lisannya.

Hati itu harus lembut; karena Hati yang lembut adalah modal dalam mendidik anak.

Pada dasarnya hati itu lembut, namun kotor karena noda dosa. Allah berfirman dalam QS AL Baqarah ayat 74 bahwa hati bisa sekeras batu, namun bisa mengalir air di celahnya. Ini berarti secara fitrah sekeras kerasnya hati, masih ada kelembutan di dalamnya.

Ciri hati yang lembut yakni rasa iba yang tinggi, suka meneteskan airmata, suka memberi dan menolong, tidak berkata kasar dan kotor, mampu menghargai pendapat, pikiran atau saran orang lain.

Agar hati kita lembut, perbanyak membaca alqur’an, berdzikir, sering meminta maaf dan memaafkan, memberi makan orang miskin dan mengusap kepala anak yatim

Mendidik anak sejak dalam kandungan:

  1. Rajin membaca doa. Dicontohkan oleh Nabi Zakaria, yang termaktub dalam QS Ali Imran ayat 38. Ya Rabbku, berilah aku dari sisi engkau seorang anak yang salih. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar Doa
  2. Sering membaca AL Quran 
  3. Ajak bayi berbicara dengan kalimat yang baik
  4. Orang tua harus menjaga akhlaknya
  5. Perhatikan makanan asupan janin

Bagian 2 : Mendidik Anak tanpa kasar 

Jangan berkata ‘bodoh’ pada anak. 

Anak mempunyai potensi minat, bakat, kemampuan dan motivasi yang berbeda. Tidak semua sama. Jangan memaksakan sesuatu kepada anak yang memang di atas kemampuannya. Orang tua dan harus menghindari kata bodoh dalam mendidik sehari hari, fokus pada kelebihannya bukan kekurangannya.

 “ Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” Hadits Al Bukhori dan muslim no.6018

  1. Jangan sampai anak merasa terpaksa belajar
  2. Jangan membentak anak

Jika kita mendidik anak dengan bentakan, maka anak akan menjadi keras dan kasar.

Hasil penelitian Lise Gliot menunjukkan bahwa anak yang dalam masa keemasan, kemudian mendapatkan suara keras dan bentakan, maka sel otak yang seharusnya tumbuh akan gugur/rusak. Dan kerusakan dari sel otak akan berlanjut ke fungsi jantung, hati dan lainnya.  Efek kerusakan otak pada remaja dan orang dewasa tidak separah kerusakan pada anak. Pada akhirnya, orang yang masa lalunya mendapatkan banyak bentakan akan banyak melamun, lambat dalam memahami sesuatu dan mudah meluapkan emosi bahkan depresi.

Maka stop membentak anak dan susunlah kembali strategi mendidik anak.

Tips agar tidak membentak anak:

  1. Selalulah berkomunikasi dengan anak
  2. Menjelaskan dengan bahasa yang lembut tapi tegas.
  3. Membuat kesepakatan dengan anak 
  4. Memberikan senyuman bila anak mengerti

Jangan menyumpahi anak dengan yang tidak baik. Karena ucapan/sumpah orang tua ketika melaknat anaknya bisa jadi dikabulkan Allah dan akan berakhir penyesalan. QS Al Isra 17 

Doa orang tua adalah syafaat bagi anaknya. Kunci kesuksesan bergantung pada ridho orang tua.

Jangan memukul Anak

Dalam islam memukul anak sangat tidak dianjurkan, karena terkait dengan aspek psikologis anak.Boleh saja memukul anak, tetapi dengan rasa sayang, dengan kesabaran tinggi, bila menyangkut hal syar’i., misalnya anak susah diarahkan untuk sholat, atau hal yang berhubungan dengan akhlak. Jangan memukul wajah, jangan memukul diiringi marah, jangan bersikap terlalu  keras dan kasar, jangan memukul dengan benda keras dan berbekas di tubuh anak, jangan memukul terus menerus, jangan memukul sebelum anak berumur sepuluh tahun. 

Anak yang sering dipukul akan menjadi agresif, kurang mampu belajar menghadapi situasi yang serupa di masa depan, menjadi penurut karena takut dan bukan karena hormat kepada orang tua, anak mudah marah dan frustasi dan salah menangkap pesan. 

Anak yang dipukul bagian sensitifnya, menjadi percaya bahwa mereka tidak layak mendapatkan hal yang lebih baik, bahkan mengasosiasikan rasa sakit dengan kenikmatan seksual. 

Jangan salah kaprah memanjakan anak.

Karena sayangnya orang tua kepada anak, apapun dilakukan orang tua demi kebahagiaanya. Hingga terkadang salah kaprah memanjakan anak. Akibatnya, anak menjadi tidak mandiri karena selalu mendapatkan dukung dan sandaran orang tua. Hendaknya orang tua tidak selalu langsung mengabulkan permintaan anak.Orang tua harus mengajak anak mempertimbangkan manfaat, dan mudharatnya bagi anak sebelum membeli barang buat anak.

Manjakanlah anak dengan kelembutan, candaan, senyuman, nada bicara yang lembut, dan banyak hal positif lainya.

Jangan remehkan kemampuan anak

Jika kita meremehkan anak, maka tanpa sadar, sebenarnya kita sudah membunuh pelan-pelan kemampuan yang ada pada diri anak kita.Jika anak datang kepada kita dengan hal baru atau prestasi yang dicapai, berilah pujian dan perhatikanlah ia dengan baik. Anak mengharapkan penghargaan yang pertama dari orang tua. Ketika anak mendapat support dan pujian orang tua, maka ia akan terus berusaha menampilkan yang terbaik.

BAGIAN 3 :  Mendidik Anak Dengan Kelembutan

Waspadalah dengan Persepsi Negatif

Sebagai orang tua dan guru, marilah kita ubah persepsi dan ucapan kita kepada anak atau murid, dari persepsi anak nakal, bandel menjadi anak sholih, baik, hebat. Jika anak mendengarnya, maka akan menambah aura positif yang masuk ke jiwanya, dan menjadi sugesti positif baginya. Perubahan diri anak bisa terjadi karena persepsia anak itu kepada dirinya sendiri. kita juga harus mempersepsikan diri kita, bahwa murid kita anak yang baik, cerdas dan potensial. Persepsi positif, tepatnya husnudzon, adalah modal dasar dalam mendidik anak dengan kelembutan dan kasih sayang.

Anak bukan produk kaleng-kaleng. Persepsi awal yang positif

Proses penciptaan manusia merupakan hal yang sangat luar biasa, yang menembus batas nalar dan kasat mata. Al Qur’an menjelaskan dengan gamblang di surat AL Mukminum ayat 12-14. 

Abu Darda’ RA mengatakan bahwasanya orang bodoh adalah orang yang melarang orang  lain berbuat keburukan, namun is sendiri malah melakukannya. (uyyuunul Akbar, Ibnul Qataidah II/39)

Standar bodoh bukanlah seseorang yang lemah secara akademis, karena setiap manusia diciptakan Allah dengan organ tubuh yang berfungsi dengan luar biasa bagusnya dan potensi yang berbeda.

Lejitkan Anak dengan kelembutan

Bila kita mendidik anak dengan kekerasan, maka potensi anak yang besar justru akan malah terpendam dan tak akan keluar karena ia terpola dengan pendekatan yang kurang baik. Memang nampak dari luar anak menurut atau akan keluar potensinya, namun  sikap demikian anak menjadi frontal atau sebaliknya menjadi diam dan apriori.

Bangunlah komunikasi yang baik dengan anak

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, “Hormatilah anak-anakmu dan perbaikilah akhlak mereka”. 

Meskipun anak anak umurnya jauh di bawah kita, kita tetap harus menghrmati mereka. Kita harus berusaha senantiasa menghormati hak, keinginan, dan pendapat mereka. Hubungan orang tua dengan anak hendaknya harmonis, menyenangkan, bermanfaat dan penuh kasih sayang. Kunci keharmonisan adalah ketulusan.

Tips menjalin hubungan harmonis antara orang tua dengan anak:

1. Komunikasi tanpa berbicara.

Sebagaimana Rasul  memberikan keteladanan tentang sholat malam kepada Ibnu Abbas yang sedang menginap di rumah Rasul dan bibinya (Maimunah). Rasul tidak berbicara namun langsung melakukan sholat malam dan Abbas mengikutinya. Ada kalanya, komunikasi kita lebih efektif ketika kita memberikan contoh. Jika kita ingin anak rajin ke masjid, kadang tak perlu memerintah, ajak anak wudhu dan tarik tangannya menuju masjid. In syaa Allah akan jauh lebih efektif

2. Fokuslah pada pembimbingan anak bukan pada kesalahannya

Orang tua hendaknya mengedepankan ajakan bukan kesalahan, apalagi diungkit berulang-ulang. Berikan pengertian bahwa apa yang dilakukan adalah salah dengan cara yang tegas. Pada anak yang tidak bisa menguliti kambing dengan benar, Rasul tidak menegur mengapa anak itu salah, namun Rasul langsung mencontohkan bagaimana menguliti dengan benar di depan anak tersebut.

3. Menarik perhatian anak sebelum menyampaikan pesan

Tarik perhatian anak terlebih dahulu agar ia siap menerima pesan kita. Ciptakan kondisi kondusif sebelum kita memberi nasehat. 

4. Buka pembicaraan dengan mengajukan pertanyaan terlebih dahulu

Dengan mengajukan pertanyaan, maka anak langsung merespon. Cara ini sering dilakukan Rasulullah kepada para sahabat ketika akan membuka sebuah diskusi. Dengan pertanyaan, pendengar diharapkan memusatkan pikirannya, bahkan secara aktif mencari jawaban. Tentunya pesan akan lebih terinternalisasi dalam diri anak ketika jawaban itu hadir dari proses berpikir dalam diri anak. Tugas kita menyatakan persetujuan atau meluruskan. Hargailah setiap jawaban anak.

5. Carilah motif dibalik perbuatan anak

Jangan langsung menghakimi kesalahan anak, namun selami dulu motif di balik perbuatan anak. Seperti halnya Rasul menanyakan alasan seorang anak yang seringkali melempari pohon kurma dengan batu., Rasul tidak langsung menyalahkan, namun mengajaknya berbicara dengan kelembutan tentang alasan dari perbuatan tersebut.ternyata karena anak tadi kelaparan.

6. Barengi nasehat dengan Doa 

Rasul mengakhiri pesan dengan mendoakan anak yang melempari pohon kurma dengan batu tadi “Ya Allah kenyangkanlah perutnya”.

Ketika kita sudah berusaha meluruskan prilaku anak, memberitahukan apa yang boleh dan tidak boleh, mengarahkan apa yang seharusnya dilakukan, jangan lupa doakan mereka. Doakan apa yang menjadi harapan dan alihkan kemarahan kita menjadi doa. Doakan di setiap waktu untuk kebaikan keluarga, istri, suami dan anak anak kita.

Nasehat lebih efektif daripada memukul

Anak yang terbiasa dipukul, ia akan dendam kepada orang tua dan pupus kasih sayangnya untuk orang tua. Ia akan suka memukul dan suka membantah juag berprilaku kasar. 

Tips mendidik anak dengan kelembutan 

  1. Menegur dan menasehati anak dengan lembut
  2. Menggantung tongkat atau alat pemukul lainnya di dinding rumah 
  3. Memukul anak dengan kelembutan 
  4. Keutamaan berlemah lembut


Kesimpulannya, pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang membuat anak takut kepada orang tua, melainkan pendidikan yang membuat anak memahami nilai kebaikan dan bertanggung jawab atas tindakannya. Dengan mendidik tanpa kekerasan dan tanpa kata-kata kasar, orang tua dapat membangun hubungan yang lebih dekat dengan anak serta membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, bertanggung jawab, dan berakhlak baik. Buku ini menjadi pengingat bahwa cara orang tua memperlakukan anak pada masa pertumbuhan dapat memberikan pengaruh besar terhadap karakter dan kehidupan anak di masa depan.