Oleh: Siti Muniro, S.Pd.I
Judul Buku : Filosofi Teras
Penulis : Henry Manampiring
Penerbit : Kompas
Tahun Terbit : 2025
Kota tempat terbit : Jakarta
Jumlah Halaman : 324
Kategori : Filsafat Populer/Self Improvement
ISBN : 978-623-346-931-9
Pernahkah kita merasa lelah bukan karena masalah kita terlalu besar, tetapi karena kita terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa kita kendalikan?
Pertanyaan inilah yang membuat Filosofi Teras karya Henry Manampiring begitu dekat dengan kehidupan kita.
Buku ini memperkenalkan Stoisisme, sebuah filosofi Yunani-Romawi kuno, dengan bahasa yang ringan dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Lalu, mengapa disebut Filosofi Teras?
Karena kata Stoicism berasal dari bahasa Yunani Stoa, yang berarti serambi atau teras. Di sebuah teras di Athena, Zeno dari Citium mengajarkan filosofi ini.
Menariknya, teras juga bisa menjadi sebuah gambaran kehidupan. Teras adalah tempat kita berhenti sejenak, menarik napas, melihat keadaan, lalu memilih bagaimana kita akan melangkah.
Dan itulah salah satu pesan utama buku ini. Kita tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Kita tidak bisa mengubah masa lalu. Kita bahkan tidak selalu bisa menentukan hasil dari usaha kita. Tetapi kita bisa mengendalikan pikiran, sikap, dan respons kita. Inilah yang disebut dikotomi kendali.
Bagi saya, inilah nilai terbesar Filosofi Teras: Ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah. Ketenangan adalah kemampuan untuk tetap memilih respons yang bijak di tengah masalah.
Sebagai guru, pesan ini terasa sangat relevan. Kita tidak bisa mengendalikan semua perilaku siswa. Tidak bisa mengendalikan semua keadaan. Dan tidak selalu bisa memastikan hasil dari setiap usaha kita. Tetapi kita selalu punya pilihan, yaitu bagaimana kita meresponsnya.
Maka, mungkin kita semua membutuhkan sebuah “teras” dalam hidup. Tempat untuk berhenti sejenak sebelum marah, berpikir sebelum bereaksi, dan menerima bahwa tidak semua hal harus kita kendalikan.
Karena pada akhirnya, kita tidak bisa mengendalikan dunia. Tetapi kita bisa belajar mengendalikan diri. Dan mungkin, di situlah ketenangan dimulai.
Refleksi:
Sebagai seorang Muslim, ajaran atau filosofi ini bukan hal baru. Meskipun filosofi ini datang bukan dari kalangan muslimin, namun ajarannya selaras denga napa yang telah diajarkan Rasulullah SAW. Bahkan, kita mendapatkan pelajaran yang lebih dalam dari ajaran Rasulullah ﷺ bagaimana cara mengahapai segala permasalahan dalam hidup kita, sebagaimana dalam haditsnya:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ
Artinya: Lakukan yang terbaik untuk apa yang bermanfaat untukmu. Mohonlah pertolongan Allah. Dan jangan pernah lemah/menyerah.
Dan di dalam Al Quran Allah juga telah berfirman:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
Artinya: “Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah.”
QS. Ali 'Imran: 159
Kita tidak bisa mengendalikan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Namun, kita bisa memilih tindakan, memperbaiki diri, dan mempercayakan hasilnya kepada Allah.
Karena ketenangan sejati bukan tentang mengendalikan segalanya. Ketenangan sejati adalah tentang melakukan yang terbaik dan mempercayakan sisanya kepada Allah.