Resensi Buku
Judul Buku : "Mohammad Natsir"
Pengarang : Pratiwi Subrata
Penerbit : Bee Media Pustaka (cetakan ke-2, Tahun 2011).
Subjek : Seri Pahlawan Nasional
Kota tempat terbit : Jakarta
Jumlah Halaman : 48 halaman
Kategori : Sejarah
ISBN : 978-602-98702-8-2
“Biografi Mohammad Natsir”
Mohammad Natsir, lahir di Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat, pada 17 Juli 1908, dari pasangan Mohammad Idris Sutan Saripado (seorang Pegawai Pemerintah Belanda di Kecamatan Alahan Panjang) dan ibu Khadijah. Beliau dikenal sebagai ulama, negarawan, pendidik, penulis, dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, Natsir pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan dan kemudian menjadi Perdana Menteri Indonesia (1950–1951). Salah satu jasa terbesarnya adalah mengajukan Mosi Integral Natsir pada tahun 1950 yang mendorong bersatunya kembali Indonesia dari Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Atas jasa-jasanya, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2008. Beliau wafat di Jakarta pada 6 Februari 1993.
Riwayat Pendidikan beliau yaitu Sekolah Rakyat (SR) di Maninjau. Kemudian lanjut HIS (Hollandsch-Inlandsche School) setingkat SD di Padang dan Solok. Kalau sore menempuh pendidikan di Madrasah Diniyah untuk memperdalam ilmu agama. Kemudian masuk MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang dan lanjut di AMS (Algemeene Middelbare School) setingkat SMA jurusan Sastra Barat Klasik di Bandung.
Yang menarik, setelah menjadi lulusan terbaik di AMS, beliau mendapat tawaran beasiswa melanjutkan kuliah di Rotterdam, Belanda dan kalau selesai diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, tetapi beliau lebih memilih memperdalam ilmu Islam kepada Ahmad Hassan (Persatuan Islam/PERSIS) di Bangil, Pasuruan serta belajar dari tokoh-tokoh seperti Haji Agus Salim. Ini adalah pilihan hidup beliau yang luar biasa, yaitu memilih mengabdikan diri pada pendidikan dan dakwah Islam daripada menjadi Pegawai Belanda.
Jasa-jasa beliau yang luar biasa yaitu menyatukan organisasi-organisasi Islam yang dibubarkan oleh Pemerintah Jepang menjadi satu yaitu Masyumi ( NU, Muhammadiyah, PUI, PUII). Bersama Muhammad Hatta mendirikan perguruan tinggi STI (Sekolah Tinggi Islam) di Bandung, juga mendirikan Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta. Beliau juga membuat wadah Kerjasama Perguruan Islam yang memungkinkan lahirnya perguruan Islam di berbagai kota di Indonesia: UMI Makassar, Unisula Semarang, UI Sumut, UI Riau, Unv. Al Azhar Indonesia.
Keteladanan Mohammad Natsir
1. Cinta tanah air, dengan memperjuangkan persatuan bangsa melalui Mosi Integral.
2. Gemar belajar, memadukan pendidikan umum dan pendidikan agama.
3. Sederhana dan jujur, hidup tanpa bermewah-mewahan meskipun pernah memegang jabatan tinggi.
4. Berani memperjuangkan kebenaran, tetap menyampaikan pendapat sesuai keyakinannya.
5. Peduli terhadap pendidikan, mendirikan lembaga pendidikan dan aktif mencerdaskan masyarakat.
6. Rajin menulis, menghasilkan puluhan buku dan ratusan artikel yang membahas Islam, pendidikan, dan kebangsaan.