Oleh : Furqon Firmansyah
Pernahkah kita membuka media sosial di pagi hari, lalu tiba-tiba merasa hidup kita kok gini- saja ya? Melihat teman mengunggah foto liburan di luar negeri. Di geseran berikutnya, seorang ibu memamerkan pencapaian anaknya. Tanpa sadar, ada rasa sesak yang muncul. Muncul pertanyaan di benak, "Mengapa hidup saya tidak seberuntung mereka?". Fenomena ini sangat wajar terjadi di era digital. Pikiran manusia memiliki kecenderungan alami untuk melakukan perbandingan sosial. Masalahnya, dunia maya telah mengubah aturan mainnya. Kita tidak lagi membandingkan diri dengan tetangga sebelah rumah, melainkan dengan standar hidup global yang sudah dikurasi dengan sangat rapi.
Di ruang digital, mayoritas orang hanya menampilkan momen terbaik mereka. Kita melihat cara parenting yang tampak tanpa konflik, tumbuh kembang anak orang lain yang optimal, dan keluarga yang nampak harmoni. Sayangnya, otak kita sering lupa bahwa itu semua hanyalah potongan kecil dari realitas yang sebenarnya. Ketika kita terus-menerus disuapi oleh visual yang sempurna ini, standar kita tentang "hidup yang sukses" ikut bergeser naik. Akibatnya, pencapaian-pencapaian kecil dalam hidup kita sendiri terasa tidak ada artinya. Ini adalah awal mula runtuhnya rasa percaya diri. Kita merasa tertinggal, padahal kita hanya sedang berjalan di rute yang berbeda.
Sebagai orang dewasa, kita menyaring ilusi di media sosial mungkin sudah cukup menantang dan menguras energi. Bayangkan bagaimana dampaknya jika layar tersebut dihadapi oleh anak-anak yang emosi dan cara berpikirnya masih labil dan terus berkembang. Di usia emas perkembangan mereka, anak-anak adalah "spons" yang menyerap apa saja di lingkungan sekitar tanpa filter yang matang. Berdasarkan data yang disampaikan oleh Meutya Hafid selaku Menteri Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi), saat ini dari sekitar 229 juta pengguna internet di Indonesia, hampir 80 persen anak sudah terhubung dengan internet.
Secara psikologis, anak-anak belum memiliki fungsi kognitif yang disebut executive control secara sempurna. Ini adalah kemampuan otak untuk membedakan secara kritis mana yang nyata dan mana yang sekadar rekayasa digital. Saat melihat seorang kreator cilik atau influencer keluarga digital menampilkan kehidupan yang serba indah, mainan yang selalu baru, dan tawa yang tidak pernah habis, anak-anak menangkapnya sebagai sebuah realitas mutlak. Mereka belum paham adanya proses penyuntingan, naskah, atau pencahayaan buatan di balik estetika video tersebut.
Apa dampak Ilusi digital seperti ini pada mental Anak?
Paparan standar hidup palsu yang terlalu dini ini memicu beberapa kerentanan psikologis yang nyata, yaitu:
Bagaimana membangun "Benteng" di dunia nyata?
Anak-anak tidak butuh hidup yang sempurna di media sosial; mereka butuh kehadiran yang utuh di dunia nyata. Peran aktif orang tua sangat krusial sebagai jangkar realitas mereka melalui langkah berikut:
Ruang digital hanyalah panggung tiruan, sementara ruang tumbuh kembang sesungguhnya ada di dunia nyata yang penuh ketidaksempurnaan. Dengan memberikan pelukan hangat, validasi emosi, dan kehadiran utuh, kita sebagai orang tua atau pun pendidik berperan memandu anak membangun fondasi percaya diri yang kuat agar tetap berpijak pada realitas dan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh.