04 Aug 2026 | 08:46

Get Anyone to do Anything Never Feel Powerless Again

Judul Buku : Get Anyone to do Anything  

Penulis : David J. Lieberman

Penerbit : PT. Serambi Semesta

Tahun terbit : 2000

Kota tempat terbit : Jakarta

Jumlah Halaman : 354 

Kategori : Self Improvement

ISBN : 978-623-90436-2-9 

 

Judul buku ini "Get Anyone to Do Anything" terkesan provokatif dan bisa disalah artikan sebagai buku manipulasi. Padahal isinya lebih ke arah empati dan komunikasi efektif. Buku ini disajikan dengan bahasa yang ringan, tidak akademis, dan memberikan contoh kasus nyata. Cocok untuk peran kita baik sebagai guru, orang tua, pemimpin, maupun pembelajar. Secara keseluruhan, "Get Anyone to Do Anything" membantu pembaca untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi. Buku ini menekankan bahwa kunci mempengaruhi orang bukan dengan memaksa, tapi dengan memahami.

Ada 3 hal penting yang saya dapatkan dari buku ini:

1.  Memahami "Kebutuhan Tersembunyi" Manusia

Penulis menjelaskan bahwa semua orang punya 3 kebutuhan dasar: ingin dihargai, ingin merasa penting, dan ingin merasa aman. Kalau kita bisa memenuhi kebutuhan ini saat berbicara, orang akan lebih mudah diajak kerja sama.

Contoh tekniknya: ganti kalimat perintah "Kumpulkan tugas sekarang" menjadi "Aku butuh keahlian kamu buat bantu rapikan ini ya".

2.  Teknik Menghadapi Orang Sulit

Ada satu teknik "Reflect and Redirect". Saat diserang, jangan langsung defensif. Cerminkan dulu perasaannya: "Sepertinya kamu kecewa ya", baru alihkan ke solusi. Ini membuat kita tetap mengendalikan emosi dan situasi.

3.  Bahasa yang Mempengaruhi

Buku ini mengajarkan trik sederhana seperti memberi 2 pilihan alih-alih perintah, dan menggunakan kata "karena" untuk membuat permintaan lebih diterima. Contohnya sangat relatable dan bisa langsung dipraktekkan.

 

Refleksi:

Setelah membaca buku ini, saya bisa belajar memperbaiki dan memahami cara komunikasi Dari buku ini saya belajar beberapa hal penting:  Tenang dulu, baru bicara. Saat emosi kita stabil, kata-kata kita akan lebih didengar.  Tujuan bukan "menang debat", tapi "menang hati". Kalau orang merasa dihargai, mereka akan lebih terbuka. Buku ini mengingatkan saya pada sebuah nilai “kebijaksanaan”. Bijak bukan berarti mendominasi, tapi mampu menuntun dengan cara yang lembut dan dipahami. Intinya, kalau kita ingin "membuat orang melakukan sesuatu", mulailah dengan membuat mereka merasa dimengerti terlebih dahulu.