Slow Living

26 Aug 2026 07:18 WIB
Slow Living

Judul Buku : Slow Living, Hidup Bukanlah Pelarian, tapi Perjalanan

Penulis : Sabrina Ara

Penerbit : Syalmahat Publishing

Tahun Terbit : 2026

Kota tempat terbit : Semarang

Jumlah Halaman : 115

Kategori : Fiksi

ISBN : 978-623-5269-28-3

 

Buku ini adalah karya lain dari penulis buku best seller berjudul Sayangi Dirimu, Berhentilah Menyenangkan Semua Orang. Sering kali kita merasa harus mengejar segala pencapaian entah itu karir, materi ataupun status sosial demi sebuah label kesuksesan. Dan, nilai kesuksesan tersebut sayangnya diukur dengan standar hidup orang lain. Nilai seseorang tak jarang diukur dari tingkat kesuksesannya. Oleh karenanya, banyak orang yang harus mengejar kesuksesan tersebut dengan berlari kencang. 

Secara tidak sadar kita memacu mesin dalam tubuh terus bekerja tanpa sempat beristirahat dengan jenak. Ketika kita sibuk berlari untuk memenuhi berbagai tuntutan, waktu terasa berputar lebih cepat. Eh tiba-tiba sudah pagi lagi. Kita harus segera tancap gas lagi. Kerja lagi. Lari lagi. Kejar-kejaran lagi. Begitu terus menerus. Tanpa memperdulikan alarm yang mewakili hak-hak tubuh yang telah lama menjerit meminta pertolongan. Tahu-tahu kesehatan kita terganggu.

Pasti sangat capek dan melelahkan sekali. Menginjak gas terus menerus tanpa sempat menginjak rem. Apakah memang ini hidup yang kita mau? Apakah tidak sayang dengan diri sendiri? Hidup bagaikan zombie di era serba instan. Semua itu adalah pilihan. Ada yang suka berlari, tetapi mungkin kita lebih cocok berjalan. Memang lebih lambat, tetapi akhirnya akan sampai juga pada tujuan. Lalu, mengapa harus memaksakan diri untuk berlari?

Berjalan pelan di antara orang-orang yang sedang berlari setengah mati, bukan berarti kita malas. Ini adalah tentang pilihan yang kita sadari. Kita memilih kecepatan yang manusiawi dan sesuai ritme kehidupan kita. Kita juga punya pilihan untuk bersikap tenang dalam menghadapi gelombang diri. Tidak terbawa arus. 

Artinya, kita harus menemukan ritme yang paling tepat secara personal. Dengan begitu, kita memegang kendali untuk sadar diri kapan harus berhenti, istirahat, berjalan lambat, bahkan ketika harus bergerak cepat untuk mencapai tujuan. Semua ada dalam kendali kita sendiri. Kendali yang kita sadari. Kendali yang bisa kita nikmati.

Pernahkah kita melihat sebuah kalimat tanpa spasi? Jika kita membaca susunan beberapa kata tanpa spasi, mungkin kita masih bisa. Tetapi akan sangat sulit, melelahkan dan perlu waktu lebih lama untuk mencernanya. Jangankan menikmati cerita atau informasi yang diberikan. Kita akan susah mengerti makna dari sambungan kata-kata tanpa jeda tersebut.

Begitupun jika hari-hari kita tanpa jeda. Hanya tersusun atas barisan agenda yang sambung menyambung tanpa henti hingga penghabisan waktu. Bisakah kita benar-benar menikmatinya? Itulah spasi, sederhana tapi membuat susunan kata lebih bermakna dan indah. Laiknya spasi yang bertugas memberi jarak pada kata, begitulah jeda. Kadang sering ada ungkapan “sek, tak ambegan!” Pertanda kita butuh jeda untuk rileks sejenak sebelum memulai kembali. 

Sangat berbeda dengan definisi malas. Pemalas tidak memiliki solusi atas permasalahan yang dihadapi. Bagi orang-orang yang malas, kenyamanan adalah yang utama. Ketika sudah merasa nyaman, mereka menikmati dan seringkali hanyut dalam kenyamanan tersebut sehingga hanya berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa. Karenanya, mereka tidak akan peduli tujuannya tercapai ataupun tidak. Itulah kenapa hidup santai sama sekali tidak sama dengan bermalas-malasan.

Sekali lagi, semua itu adalah pilihan. Jangan menyiksa, sayangilah diri kita. Pilihlah lintasan dan ritme yang paling pas untuk kita tempuh. Cobalah melambat, karena hidup adalah perjalanan, bukan pelarian.