(28 Apr 2026 | 08:38)

Membumikan Al-Quran

 

Buku Membumikan Al-Qur’an karya M. Quraish Shihab membahas bagaimana Al-Qur’an dipahami dan diterapkan dalam kehidupan nyata. Penulis menjelaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga dijadikan pedoman dalam menghadapi persoalan sosial, pendidikan, budaya, dan perkembangan zaman. Dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami, buku ini membantu pembaca memahami pesan Al-Qur’an secara kontekstual.

Secara keseluruhan, buku ini sangat bermanfaat bagi pembaca yang ingin memperdalam pemahaman Islam secara moderat, rasional, dan relevan dengan kehidupan modern. Buku ini juga menunjukkan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam buku ini, penulis menyajikan berbagai permasalahan kehidupan secara tematik, kemudian membahasnya berdasarkan tafsir Al-Qur’an. Setiap tema dikaji dengan menghubungkan ayat-ayat Al-Qur’an sehingga pembaca dapat memahami ajaran Islam secara lebih jelas, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Salah satu pembahasan yang menarik dalam buku ini adalah tentang falsafah dasar iqra’ serta konsep pendidikan dalam Al-Qur’an. Penulis menjelaskan bahwa perintah iqra’ tidak hanya berarti membaca teks, tetapi juga memahami, meneliti, dan mempelajari kehidupan secara luas. Dari sini terlihat bahwa Al-Qur’an sangat menekankan pentingnya ilmu pengetahuan, pembelajaran, dan pendidikan sebagai dasar kemajuan manusia.

Falsafah Dasar Iqra’

Kata Iqra’ berasal dari bahasa Arab yang secara umum diartikan sebagai “bacalah”. Akan tetapi, makna Iqra’ tidak hanya terbatas pada kegiatan membaca teks atau tulisan semata. Kata ini memiliki arti yang lebih luas, yaitu menelaah, meneliti, mengkaji, memahami, serta mendalami sesuatu secara sungguh-sungguh.

Secara etimologis, kata Iqra’ berasal dari akar kata qara’a yang berarti menghimpun atau mengumpulkan. Dari makna dasar ini dapat dipahami bahwa membaca bukan sekadar melafalkan huruf, tetapi juga mengumpulkan informasi, menyusun pemahaman, serta mengambil hikmah dari apa yang dibaca. Oleh karena itu, perintah Iqra’ mengandung pesan agar manusia selalu menggunakan akal pikirannya untuk mencari ilmu dan memahami kehidupan.

Perintah Iqra’ yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan pentingnya ilmu pengetahuan. Wahyu pertama ini menjadi dasar bahwa kemajuan manusia dimulai dari membaca, belajar, dan berpikir. Dengan membaca, manusia dapat keluar dari kebodohan menuju peradaban yang lebih maju.

Qira’ah dan Pentingnya Membaca

Kata qira’ah berkaitan erat dengan aktivitas membaca. Dalam Al-Qur’an, kata ini digunakan dalam berbagai bentuk dan makna. Terkadang, qira’ah merujuk pada bacaan yang bersumber dari Allah Swt., yaitu wahyu atau ayat-ayat Al-Qur’an. Namun, dalam makna yang lebih luas, qira’ah juga mencakup membaca segala sesuatu yang ada di sekitar manusia, seperti alam semesta, sejarah, pengalaman hidup, dan hasil karya manusia.

Hal ini menunjukkan bahwa membaca dalam Islam tidak hanya terbatas pada kitab suci, tetapi juga mencakup membaca tanda-tanda kebesaran Allah di alam raya. Misalnya, seseorang dapat “membaca” keadaan sosial masyarakat, mempelajari ilmu pengetahuan, meneliti fenomena alam, serta memahami perkembangan zaman. Semua itu merupakan bagian dari perintah membaca dalam arti luas.

Di dalam Al-Qur’an juga terdapat istilah tilaawah. Kata tilaawah biasanya digunakan khusus untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan tartil, penuh penghayatan, dan mengikuti aturan bacaannya. Sementara itu, kata qira’ah memiliki cakupan yang lebih umum, yaitu segala bentuk kegiatan membaca dan memahami berbagai sumber pengetahuan.

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa membaca memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan membaca, seseorang dapat menambah wawasan, meningkatkan kecerdasan, memperluas cara berpikir, serta memperoleh ilmu yang bermanfaat. Karena itu, umat Islam diperintahkan untuk senantiasa gemar membaca sebagai jalan menuju kemajuan dunia dan akhirat.

Pentingnya membaca dalam hal ini dikaitkan dengan kalimat pada ayat selanjutnya, yaitu Iqra’ bismi rabbika. Ayat ini menyeru manusia tentang pentingnya membaca. Namun, membaca bukan sekadar melafalkan tulisan, melainkan dilakukan dengan keikhlasan serta mampu memilih bahan bacaan yang tepat dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan. Puncaknya terdapat pada kalimat wa rabbukal akram, yang mengandung pengertian bahwa Allah menganugerahkan kemuliaan dan segala hal terpuji bagi hamba-Nya yang gemar membaca. Dengan kata lain, “Bacalah, niscaya Tuhanmu akan menganugerahkan dengan kemurahan-Nya pengetahuan tentang apa yang belum engkau ketahui.”

Manusia sebagai Makhluk Membaca

Membaca merupakan syarat utama dalam membangun peradaban. Setelah manusia mengenal baca tulis, lahirlah berbagai peradaban maju dan modern sebagai buah dari kemampuan membaca. Hal ini sejalan dengan tugas manusia sebagai ‘abdun lillah dan khalifah fil ardh (dwifungsi manusia), yang mengemban tanggung jawab spiritual sekaligus sosial. Untuk menjalankan tugas tersebut, manusia memerlukan potensi keilmuan sebagai syarat mutlak. Ilmu, baik yang bersifat kasbi (diperoleh melalui usaha) maupun laduni (karunia dari Allah), tidak dapat dicapai tanpa terlebih dahulu melakukan qira’ah atau membaca dalam arti luas. Oleh karena itu, membaca merupakan syarat pertama dan utama bagi keberhasilan manusia. Tidak mengherankan jika membaca menjadi tuntunan pertama yang diberikan Allah kepada manusia.

Konsep Pendidikan dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an memperkenalkan dirinya sebagai pemberi petunjuk menuju jalan yang lurus. Petunjuk tersebut bertujuan memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia, baik secara individu maupun kelompok. Atas dasar itu, tujuan pendidikan dalam Al-Qur’an adalah membina manusia, baik secara pribadi maupun sosial, agar mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi.

Konsep kekhalifahan meliputi empat unsur yang saling berkaitan, yaitu pemberi tugas (Allah), penerima tugas (manusia, baik individu maupun kelompok), tempat atau lingkungan, serta materi penugasan. Tugas kekhalifahan tidak akan berhasil apabila keempat unsur tersebut tidak berjalan secara seimbang dan saling mendukung.

Manusia yang dibina dalam pendidikan Al-Qur’an adalah makhluk yang memiliki unsur material, yaitu jasmani, serta unsur immaterial, yaitu akal dan jiwa. Pembinaan akal akan menghasilkan ilmu pengetahuan, pembinaan jiwa akan melahirkan kesucian dan etika, sedangkan pembinaan jasmani akan menghasilkan keterampilan. Jika ketiganya dipadukan, akan terbentuk keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, antara ilmu dan iman. Konsep ini dikenal dengan istilah adab al-din dan adab al-dunya.

Metode Penyampaian Materi

Metode pendidikan dalam Al-Qur’an diarahkan kepada seluruh potensi manusia, yaitu jasmani, akal, dan jiwa. Hal ini tampak dalam berbagai ayat Al-Qur’an. Dalam penyajian materinya, Al-Qur’an membuktikan kebenaran ajarannya melalui argumentasi yang logis maupun melalui pembuktian yang dapat diteliti sendiri oleh manusia dengan penalaran akalnya. Contohnya terlihat dalam pembahasan mengenai akidah, kepercayaan, hukum, sejarah, dan berbagai persoalan kehidupan lainnya.

Salah satu metode yang digunakan Al-Qur’an dalam mengarahkan manusia adalah sebagai berikut:

1. Menggunakan Kisah

Al-Qur’an banyak menggunakan kisah sebagai sarana pendidikan. Melalui kisah para nabi, umat terdahulu, maupun peristiwa sejarah, manusia diajak mengambil pelajaran, hikmah, dan teladan dalam menjalani kehidupan.

2. Nasihat

Nasihat merupakan kalimat yang menyentuh hati dan mampu menggugah kesadaran manusia. Dalam Al-Qur’an, nasihat selalu disertai dengan keteladanan dari pemberi nasihat, yaitu Rasulullah saw. Dengan demikian, nasihat tidak hanya berupa kata-kata, tetapi juga diwujudkan melalui contoh nyata.

3. Pembiasaan

Al-Qur’an juga menerapkan metode pembiasaan yang bertujuan membentuk kebiasaan baik dalam diri manusia. Pembiasaan ini ada yang bersifat pasif, yaitu berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi, serta yang bersifat aktif, yaitu menyangkut akidah dan etika. Dalam hal tertentu, Al-Qur’an memberikan perintah dan larangan secara tegas tanpa bertahap, seperti larangan menyembah berhala, kemusyrikan, dan kebohongan. Sementara itu, larangan terhadap minuman keras, judi, riba, dan zina dilakukan secara bertahap melalui proses pembiasaan.

4. Penghargaan dan Ancaman

Apabila berbagai metode di atas telah ditempuh, Al-Qur’an juga mengemukakan janji ganjaran bagi mereka yang taat dan berbuat baik. Sebaliknya, jika tujuan pendidikan belum tercapai, Al-Qur’an memberikan ancaman atau sanksi yang juga disampaikan secara bertahap.

Penulis juga menyampaikan bahwa gambaran Al-Qur’an dalam menuntun peserta didik menemukan kebenaran masih berseberangan dengan sistem pendidikan saat ini yang cenderung menitikberatkan pada hafalan. Selain itu, pembelajaran sering kali menggunakan contoh-contoh yang kurang relevan, bahasa yang kering dan tidak menyentuh hati, serta nasihat yang tidak didukung oleh keteladanan dari pemberinya. 

Atas dasar itu, sangat populer sabda Nabi saw., “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat.” Ungkapan tersebut sejalan dengan konsepsi Al-Qur’an tentang keharusan menuntut ilmu dan memperoleh pendidikan sepanjang hayat. Gagasan dalam khazanah Islam ini sesungguhnya telah mendahului konsep lifelong education yang kemudian dipopulerkan oleh Paul Lengrand dalam bukunya An Introduction to Lifelong Education.

Bahkan, lebih jauh dapat dikatakan bahwa Al-Qur’an tidak hanya menekankan pentingnya belajar, tetapi juga pentingnya mengajar. Hal ini sebagaimana tercermin dalam Surah Al-‘Asr, yaitu perintah untuk saling menasihati dan saling mewasiatkan dalam kebenaran. Dengan demikian, pendidikan dalam Islam bukan hanya proses menerima ilmu, tetapi juga menyampaikan ilmu kepada orang lain.

 

Refleksi

Dari pembahasan mengenai konsep pendidikan dalam Al-Qur’an, saya memahami bahwa pendidikan bukan sekadar proses memperoleh pengetahuan, tetapi juga usaha membentuk manusia seutuhnya. Al-Qur’an menempatkan manusia sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di bumi, sehingga pendidikan harus mampu menyeimbangkan aspek ilmu, iman, akhlak, dan keterampilan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan sejati tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada pembinaan jiwa dan tanggung jawab sosial.

Saya juga menyadari bahwa metode pendidikan dalam Al-Qur’an sangat relevan untuk diterapkan hingga saat ini. Penggunaan kisah, nasihat, pembiasaan, penghargaan, dan ancaman menunjukkan bahwa pendidikan harus menyentuh akal sekaligus hati. Pendidikan tidak cukup hanya dengan hafalan atau teori, tetapi perlu keteladanan dan pembiasaan agar nilai-nilai yang diajarkan benar-benar tertanam dalam diri peserta didik.

Selain itu, ajaran Islam sangat menekankan pentingnya belajar sepanjang hayat. Sabda Nabi saw. tentang menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat menjadi pengingat bahwa proses belajar tidak pernah berhenti. Tidak hanya belajar, setiap orang juga memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan kebaikan dan kebenaran kepada sesama.

Melalui kajian ini, saya semakin memahami bahwa pendidikan dalam perspektif Al-Qur’an bertujuan menciptakan manusia yang berilmu, berakhlak mulia, dan mampu memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, sistem pendidikan masa kini perlu mengambil nilai-nilai tersebut agar mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan seimbang antara kehidupan dunia serta akhirat.