Judul Buku : Menjadi Murobbi Sukses
Penulis : Satria Hadi Lubis
Penerbit : Kreasi Cerdas Utama
Tahun Terbit : 2002
Kota tempat terbit : Jakarta Selatan
Jumlah Halaman : 173
Kategori : Pengembangan diri islam (motivasi islami) dan pendidikan / dakwah.
ISBN : -
Secara mendalam buku ini membahas tentang peran strategis seorang murobbi dalam proses tarbiyah Islam. Murobbi diposisikan bukan hanya sebagai pengajar ilmu, tetapi sebagai pembina keimanan, akhlak, dan kepribadian umat. Keberhasilan tarbiyah tidak semata-mata ditentukan oleh metode atau materi, melainkan sangat bergantung pada kualitas pribadi murobbi itu sendiri.
Pada bagian awal, penulis menegaskan hakikat murobbi sebagai pendidik yang memikul amanah besar dari Allah SWT. Tarbiyah bukan pekerjaan sambilan, melainkan misi kehidupan yang membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan. Seorang murobbi harus menyadari bahwa setiap proses pembinaan akan dimintai pertanggungjawaban, sehingga niat menjadi pondasi utama dalam menjalankan peran ini.
Buku ini menekankan bahwa murobbi yang sukses adalah mereka yang terlebih dahulu berhasil mendidik dirinya sendiri. Kepribadian murobbi menjadi sarana tarbiyah paling efektif, karena mutarabbi lebih banyak belajar dari keteladanan dibandingkan dari nasihat lisan. Oleh karena itu, murobbi dituntut menjaga integritas antara ucapan dan perbuatan.
Karakter-karakter penting yang harus dimiliki oleh murobbi sukses, di antaranya keikhlasan dalam beramal, keistiqomahan dalam dakwah, keluasan ilmu, kesabaran dalam menghadapi berbagai kondisi mutarabbi, serta kepedulian yang tinggi. Murobbi juga harus memiliki empati dan kemampuan memahami latar belakang serta kondisi psikologis orang yang dibina.
Selain karakter, buku ini menjelaskan peran murobbi secara komprehensif. Murobbi berperan sebagai pendidik yang menanamkan nilai-nilai Islam, sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai motivator yang membangkitkan semangat, dan sebagai pendamping dalam proses perubahan. Peran ini menuntut kehadiran murobbi secara utuh, baik secara fisik, emosional, maupun spiritual.
Dalam aspek metode, pendekatan tarbiyah yang bertahap (tadarruj) merupakan sangat penting. Perubahan tidak bisa dipaksakan secara instan, melainkan melalui proses yang berkesinambungan. Tarbiyah yang efektif dibangun melalui hubungan hati, dialog yang terbuka, serta nasihat yang disampaikan dengan hikmah dan kasih sayang. Praktik langsung dan pembiasaan dinilai lebih berdampak dibandingkan penyampaian teori semata.
Buku ini juga mengulas berbagai tantangan yang dihadapi murobbi, seperti perbedaan karakter mutarabbi, kejenuhan dalam pembinaan, futur (penurunan semangat), serta keterbatasan waktu dan tenaga. Tetapi tantangan tersebut adalah bagian dari sunnatullah dalam dakwah. Oleh karena itu, murobbi harus senantiasa memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui doa, ibadah, dan muhasabah diri.
Kesuksesan murobbi tidak diukur dari banyaknya orang yang dibina, melainkan dari kualitas proses tarbiyah dan ketulusan dalam menjalankannya. Murobbi yang sukses adalah mereka yang terus belajar, mau memperbaiki diri, dan istiqomah dalam mendampingi mutarabbi menuju perubahan yang lebih baik.
Refleksi :
Kita harus sadar bahwa peran murobbi adalah peran yang sangat mulia sekaligus berat. Membaca buku ini menumbuhkan pemahaman bahwa tarbiyah bukan sekadar aktivitas rutin, tetapi sebuah amanah besar yang membutuhkan kesiapan spiritual, mental, dan moral.
Salah satu pelajaran penting dari buku ini adalah bahwa keberhasilan tarbiyah sangat ditentukan oleh keteladanan. Seorang murobbi tidak cukup hanya pandai berbicara atau menguasai materi, tetapi harus mampu menjadi contoh nyata dalam sikap, akhlak, dan konsistensi beribadah. Hal ini menjadi pengingat untuk terus melakukan muhasabah diri sebelum menuntut perubahan pada orang lain.
Buku ini juga menyadarkan bahwa proses pembinaan adalah perjalanan panjang yang penuh tantangan. Rasa lelah, jenuh, dan futur merupakan hal yang wajar, namun tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti. Justru pada titik inilah keikhlasan dan keistiqomahan diuji. Murobbi dituntut untuk terus memperbarui niat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT agar tetap kuat dalam menjalankan amanah.
Sikap empati dan kesabaran sangat penting dalam menghadapi perbedaan karakter mutarabbi. Setiap individu memiliki latar belakang dan proses yang berbeda, sehingga murobbi harus bijak dalam menyikapi setiap kondisi. Tarbiyah yang dilakukan dengan kasih sayang akan lebih mudah diterima dan membekas dalam diri mutarabbi.
Secara keseluruhan, buku ini mengajak pembaca untuk tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi pada kualitas proses dan ketulusan niat. Menjadi murobbi sukses berarti terus belajar, terus memperbaiki diri, dan tetap istiqomah dalam mendidik, meskipun hasilnya tidak selalu terlihat secara langsung.